Mabrurkah Haji Kita ?

 

RISALAH
Mabrurkah Haji Kita ?
KOMPAS – Cetak
Selasa, 4 November 2008 | 03:00 WIB

Nasaruddin Umar

”Barangsiapa yang menunaikan haji dengan niat semata-mata karena Allah, tidak berkata kotor dan berbuat fasik, maka ia akan menjadi sosok suci seperti bayi yang dilahirkan oleh ibunya.” (HR Bukhari)

Cita-cita semua orang yang menunaikan ibadah haji, selain ingin hajinya diterima (makbul), juga yang lebih penting ingin hajinya mabrur, yakni haji yang mendapatkan penilaian khusus di sisi Allah SWT. Haji mabrur dijanjikan keutamaan khusus dari Rasulullah SAW: ”Tidak ada haji yang balasannya surga selain haji yang mabrur.” (HR Bukhari-Muslim)

Haji makbul biasa dicapai melalui penyempurnaan niat, rukun, syarat, dan sunah haji, tetapi haji mabrur membutuhkan waktu untuk menyadarinya. Di samping itu juga membutuhkan watak dan karakter individu yang andal dan konsisten (istiqamah).

Apa sesungguhnya haji mabrur itu, bagaimana meraihnya, dan bagaimana mempertahankannya. Dampak positif haji mabrur bukan hanya pada diri yang bersangkutan, tetapi juga di dalam masyarakat luas. Haji mabrur dapat menjadi kader yang andal di dalam menyelesaikan berbagai problem masyarakat dan bangsa kita. Dengan demikian, perwujudan haji mabrur patut diperjuangkan semua pihak.

Haji mabrur tidak diukur pada saat proses pelaksanaan haji, tetapi terutama seusai pelaksanaan ibadah haji itu sendiri. Kriteria haji mabrur juga menuntut syarat-syarat sosial seperti yang secara eksplisit disebutkan dalam Al Quran.

Barangsiapa yang menetapkan niatnya dalam bulan itu akan mengerjakan haji, maka tidak boleh rafats, berbuat fasik, dan berbantah-bantahan di dalam masa mengerjakan haji. Dan, apa yang kamu kerjakan berupa kebaikan, niscaya Allah mengetahuinya. Berbekallah, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa dan bertakwalah kepada-Ku hai orang-orang yang berakal (QS Al-Baqarah/2:197).

Berkata-kata kotor dan sembrono, berbuat keonaran (fasik), dan berbantah-bantahan, diberikan penegasan khusus oleh Allah SWT. Beranikah kita memutus dosa-dosa langganan kita selama ini, baik yang kecil-kecil apalagi yang besar-besar. Apakah masyarakat sekitar, terutama keluarga, sudah merasakan vibrasi positif dari kita. Dengan kata lain, apakah haji kita membawa kebaikan di masyarakat, khususnya di lingkungan keluarga terdekat kita.

Untuk membangkitkan kesadaran spiritual sebagai upaya menggapai haji mabrur, pengenalan makna dan simbol-simbol haji perlu juga mendapatkan perhatian khusus, terutama pemaknaan secara esoterik sejumlah tempat yang banyak mendapatkan perhatian umat.

Institusi Thawaf, misalnya, sebagai warisan dari Nabi Adam, selain menirukan cara beribadah para malaikat, juga menirukan perilaku alam raya. Ini semua membuktikan bahwa manusia sebagai partikel mikrokosmos harus juga tunduk dan pasrah (islam) dan konsisten (istiqamah) kepada Khaliqnya. Seorang Muslim yang ideal ialah selain menyatakan kepasrahan total kepada Allah SWT juga harus memancarkan nilai-nilai pencerahan di dalam kehidupan bermasyarakat. Tidak hanya menjunjung tinggi kesalehan individual, tetapi juga kesalehan sosial.

Dalam siklus kehidupan sehari-hari, manusia senantiasa menjalankan fungsi-fungsi tawaf. Orang-orang yang bertawaf di atas rel yang benar, mereka itulah disebut orang-orang yang berjalan di atas jalan yang lurus, jalan yang penuh kenikmatan (shirath alladzina an’amta ’alaihim).

Orang-orang musyrik, atau orang-orang yang melakukan loyalitas dan penghambaan ganda kepada lebih dari satu obyek yang seharusnya disembah, sesungguhnya telah menempuh rel menyimpang dalam kehidupannya sehingga Tuhan menggambarkannya dalam Surah Al-Hajj:

Barangsiapa mempersekutukan sesuatu dengan Allah, maka adalah ia seolah-olah jatuh dari langit lalu disambar oleh burung, atau diterbangkan angin ke tempat yang jauh. (QS Al-Hajj/22:31)

Orang-orang yang menyimpang dari sistem global dan nilai-nilai universal sebagaimana ditetapkan Tuhan tidaklah tergolong haji mabrur, bahkan boleh jadi yang bersangkutan sesungguhnya orang-orang yang sesat. Nurani (cahaya) dalam hati mereka padam digantikan dengan hati dlulmani, hati yang gelap-gulita. Cermin batinnya yang buram tidak mampu lagi menangkap nur, cahaya Ilahi.

Mereka teralienasi oleh gemerlapnya kehidupan dunia. Mereka itu sangat berpotensi untuk membenarkan segala cara dalam memenuhi keinginannya. Mereka tidak lagi tergetar hatinya dalam menyaksikan penderitaan kaum dlu’afa’ yang semakin dla’if karena paham individualisme sedemikian merasuk ke dalam pikirannya. Orang-orang seperti ini sulit merasakan ketenangan dan ketenteraman hakiki karena dalam jiwanya dipadati power struggle, ambisi berlebihan, dan pada akhirnya mereka merasa kelelahan karena tersedot oleh energinya sendiri. Ini bisa ditebak bahwa sepanjang seseorang masih seperti ini, sulit kiranya haji mabrur menyertai kita.

Godaan mempertahankan haji mabrur juga tidak gampang karena terkadang yang kita harus hadapi bukan orang lain, melainkan diri sendiri. Kiat-kiat mempertahankan kemabruran haji tentu saja yang bersangkutan diharapkan tetap mempertahankan ibadah sosial yang paralel dengan ibadah mahdlah. Semoga para hujjaj kita tahun ini memperoleh haji mabrur.

Nasaruddin Umar Katib Am PB NU & Rektor PTIQ Jakarta, nasar.umaryahoo.com

Comments are closed.

%d bloggers like this: